Rabu, 14 Maret 2018

Mencari Sang Pelopor



Mencari
Sang
Pelopor.....
      PERJALANAN panjang melelahkan, menelusuri jantung Desa Kekait hanya untuk bertemu sang Pelopor. Rasa ingin tahu dan bertemu tak pernah pudar. Dan nanti dalam pertemuan itu, ingin mengorek segala hal terkait penganugerahan “Pelopor” baginya. Siapa dia? Dia adalah H. Habibul Mustaan, sang Pelopor Kedaulatan Pangan Nasional dari Desa Kekait Kecamatan Gunungsari.

                Pagi hari, cahaya mentari di desa itu masih bersinar cerah. Cahayanya meredeup ditelan terik matahari, sehingga warna angkasa menjadi biru temaram. Langkah ini pasti dan satu niat; bertemu dengan H. Habibul Mustaan. Kendati disetiap persimpangan harus rela bertanya; dimana gerangan rumah sang Pelopor tersebut.
Akhirnya pada sebuah dusun kecil bernama dusun Kekait Daye, tinggallah sesosok lelaki paruh baya yang tak lain adalah Habibul Mustaan (35). Warga Kekait akrab menyapanya Mustaan. Dia dianugerahi sebagai Pelopor Kedaulatan Pangan Nasonal, karena berhasil merubah tatanan kehidupan ekonomi warga Kekait yang pahit dan getir itu. Sekarang  telah menempuh titik balik yang baru. Spontan sudah berubah, karena semburat impresi oleh desa Aren di jantung Kabupaten Lombok Barat (Lobar) ini.
                Mungkin ada yang bertanya, kenapa harus Kekait? Apa yang menarik di desa ini? Jawabannya cuma satu, Aren! Aren adalah ciri khas desa Kekait. Terletak di perbukitan yang subur, merupakan berkah tak terhingga bagi desa ini, karena bukan cuma aren yang tumbuh lebat di perkebunan. Mustaan akhirnya berceloteh membuka percakapan, hampir tidak ada tanaman yang ditanam dengan sengaja di Kekait. Aren, pisang, durian, nangka dan pepohonan yang rimbun menumpuk di Kekait, adalah anugerah yang tumbuh sendiri.
Saya jadi tertegun. Desa ini memang memproduksi hasil olahan aren. Mulai dari Tuak Manis yang disadap dari getahnya sampai gula aren yang terkenal itu. Tapi bukan hanya itu. Baru sekarang juga saya paham kalau pohon aren (enau) tiap incinya pun bermanfaat. Biji aren dapat berubah menjadi kolang-kaling di es buah yang dapat dibeli dimana-mana. Bahkan dedaunannya dapat dijadikan sapu lidi, ijuk hingga atap rumbia. Buah-buahan lain juga marak di Kekait. Tidak ada satupun dari pisang ataupun nangka hasil tanah Kekait yang tidak manis rasanya.
                Kudengar sang pelopor berceloteh. Tidak usah jauh-jauh ke bukit, di sekeliling rumah warga saja sudah banyak pepohonan rindang yang tumbuh subur. Potensi ini benar-benar dimanfaatkan warga. Tapi masalah memang ada dimana-mana tak terhindarkan. Demikian juga dengan desa Aren ini, SDM yang nyaris lumpuh, sementara potensi sumberdaya alam berupa aren terus melimpah ruah tanpa bisa dimanaj dengan sempurna. Kondisi inilah yang akhirnya dirubah oleh Mustaan hingga mencapai klimak impian yang nyata. “Sekarang, berapapun Tuak Manis (air nira) milik warga saya beli,” tantangnya.
          Konon, tuak manis pun merupakan salah satu usaha menjanjikan warga Kekait. Namun tuak manis ini telah dialih fungsikan menjadi minuman keras memabukkan (miras). Dengan kondisi yang tidak mengenakkan, hampir saban hari anak-anak muda terlibat dalam konsumsi miras tuak ini. Kendati awiq-awiq dan regulasi Perda miras pun muncul, namun minuman memabukkan yang satu ini toh masih disukai pula.
                Mustaan kembali ke masa lalu, saat Sumberdaya Manusia (SDM) bidang ekonomi Desa Kekait nyaris lumpuh, nyaris mendapat branding status rendah. Namun sejalan dengan kondisi globalisasi yang kian hebat dan cepat, berdampak positif pada pengembangan SDM tersebut. Salah satu dampak positif itu mengarah pada Habibul Mustaan. Lelaki ramah ini, mampu membawa desanya berbicara di tingkat nasional. Melalui upayanya membangun masyarakat pra sejahtera menjadi sejahtera, akhirnya, lelaki murah senyum ini dinobatkan sebagai Pelopor Kedaulatan Pangan Nasional. Inovasinya adalah, pengembangan ekonomi melalui produksi gula semut.
Sepak terjang Mustaan membangun ekonomi warga terus berlanjut. Bagai air sungai tiada bermuara. Sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Seluruh yang berkaitan dengan air nira, disulapnya menjadi gula batu, gula semut, gula cair bahkan minuman tradisional ‘serbat’ dikemas rapi dalam bentuk sunshet. Hampir tak ada yang tersisa, semua laris manis menelusuri pasaran tradisional maupun moderen. Toko, kios, warung bahkan supermarket ternama pun, gula semut milik Mustaan hampir memenuhi tiap outlet. Tidak berhenti sampai di situ, di kantor-kantor pemerintah di Lombok Barat, gula semut milik Mustaan pun dikonsumsi para pegawai.
Melihat itu, Mustaan harus konsen, ingin menemukan satu solusi yang tepat, supaya harga-harga produksi gula semut bisa terangkat. Jika solusi itu bisa jalan, maka nilai plusnya akan terangkat pula. Namun selama belasan tahun, Mustaan harus banting tulang, jatuh bangun membina perekonomian masyarakat desanya. Selama itu pula, teryata belum juga berhasil membukakan matanya tentang dunia, tentang apa yang selama ini sudah dikenalnya.
Tapi dalam dua bulan terakhir, Mustaan sedang menemukan titik balik yang baru. Persepsinya tentang banyak hal drastis berubah, karena lagi-lagi semburat inspirasi yang ditampilkan oleh Desa Kekait yang kaya akan sumberdaya alam...ya berupa pohon aren.
Melihat potensi itu, Mustaan menemukan titik nadir, mendepersifikasi gula aren. Setelah berhasil, selanjutnya mencari kemasan yang memang lebih menarik dari sebelumnya. Intinya adalah merubah kemasan. Setelah itu dilanjutkan dengan mencari pasaran yang lebih luas, namun tidak serta merta meninggalkan pasar sebelumnya yakni pasar tradisional. “Dalam pemasaran, semua harus jalan, baik di pasar tradisional maupun moderen,” jelasnya pada suatu kesempatan dialog dengan saya.
Tidak hanya itu, bidikan lain yang difokuskan adalah pasar ekspor. Terhadap hal ini, diperlukan tenaga-tenaga trampil yang bisa mengolah, mendapatkan dukungan dari masyarakat setempat yang nota bene terlibat dalam pengolahan gula semut atau gula aren ini. Termasuk yang tak kalah pentingnya adalah mendapat dukungan dari pemerintah Lombok Barat.
Diakui, setelah adanya produk, singkronisasi serta dukungan semua pihak, maka tingkat kesejahteraan masyarakat, dari apa yang diproduksi hari ini, maka habis untuk hari ini. Tetapi untuk saat ini, Mustaan tidak berfikir mau makan apa hari ini. Demikian juga dengan sebagian masyarakat, sebelumnya tidak memiliki daya beli yang kuat, namun sekarang berada dalam level di atas rata-rata.
Mustaan tidak mempungkiri kendala yang ada. Minimnya produksi lebih dikarenakan masih menggunakan pola-pola produksi gula semut secara tradisional. Sementara untuk memenuhi kebutuhan nasional, dibutuhkan penggunaan sarana dan alat-alat produksi moderen. Karena produksi aren menjadi gula semut harus dilakukan tepat waktu. “Itu kendala kita berproduksi dalam skala besar. Kami sedang berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Bappeda Lombok Barat untuk mengoptimalkan produksi kita,” jelas Mustaan.
Hal ini beralasan, karena Mustaan terpilih sebagai Ketua Asosiasi Aren Indonesia (AAI) Nusa Tengara Barat (NTB), tentu harus membangun komunikasi bisnis dengan berbagai pihak dalam memperluas pasar produk gula berbahan baku air aren ini.
Kata Mustaan, AAI NTB sendiri, mampu memproduksi ratusan kilogram gula merah per bulan dalam bentuk batangan dan gula semut dengan memanfaatkan potensi air nira (enau). Ini masih di Kabuaten Lombok Barat, Lombok Utara dan Lombok Timur, belum termasuk kabupaten/kota lain yang belum menjadi angota AAI NTB. “Kami siap menjalankan kerjasama sepanjang saling menguntungkan,” ucap sang pelopor yang sudah menggeluti usaha produksi gula aren selama puluhan taun itu.
Sekarang kesibukan Mustaan seperti never die, terus berlanjut. Apalagi AAI NTB sendiri diminta sebagai salah satu daerah penopang kebutuhan gula merah ekspor. Baru-baru ini, AAI NTB telah menandatangani MoU dengan PT.PPI (Perusahaan Perdagangan Indonesia) untuk menjawab kebutuhan gula merah di luar dan dalam negeri. “AAI pusat meminta NTB menyiapkan minimal 1,5 ton gula semut sebulan,” kata Mustaan. Bagi dia, permintaan ini cukup tinggi, karena pihaknya masih melakukan produksi yang terbatas. Sementara hasil di daerah bisa dipasok hanya untuk memenuhi kebutuhan nasional. Sedangkan MoU yang dilakukan dengan PT. PPI, untuk kebutuhan ekspor ke Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Timur Tengah, selebihnya ke Eropa.
Apapun alasannya, Mustaan kini sudah menjadi pelopor. Sang Maistro Kedaulatan Pangan Nasional yang membawahi lebih dari 397 orang petani perkebunan pohon aren. Luas areal perkebunan mencapai sekitar 128 hektar.
Satu hal yang membut saya terkesima dari Kekait. Semakin hari warganya tumbuh tidak menjadi warga individualistis. Dulu, warga tidak peduli dengan urusan orang lain. Sekarang mereka hangat dan ramah. Setiap orang yang saya temui, pasti menyapa dan tersenyum. Dari bocah-bocah kecil, anak-anak muda sebaya, ibu-ibu dan bapak-bapak hingga kakek nenek, semua rajin tersenyum dan menyapa dengan sejuta kehangatan.
Mungkin mereka telah menemukan keindahan, dan telah membuka mata, karena lebih banyak tahu tentang potensi dan daya tarik desa Aren Kekait. Sama dengan potensi desa Kekait, seseorang seperti Mustaan bukan hanya menarik, tetapi juga memiliki banyak potensi, harus bermanfaat bagi orang lain dan sekitarnya. Semoga! (L.Pangkat Ali)

Senin, 17 September 2012

Kata Salam dalam Pergaulan Orang Sasak

Oleh: Lalu Pangkat Ali


Semangat persaudaraan orang Sasak terbilang sangat tinggi. Tapi sayang, seringkali tidak diungkapkan secara terbuka, melainkan lebih banyak berupa ekspresi melalui bahasa tubuh (body language) atau sekedar tersenyum. Ketika bertemu atau setelah akan berpisah/berpamitan, secara kultural, orang Sasak tidak mengenal ucapan yang spesipik. Kalau bertamu misalnya. Orang Sasak akan ‘berdehem’ di depan rumah orang yang akan dikunjungi untuk memberi isyarat pada tuan rumah bahwa, ada orang yang datang.
                Begitu mendengar suara orang mendehem, tuan rumah pun akan bertanya, siapa gerangan diluar, seraya menuju pintu rumah untuk membuka pintu dan mempersilahkan tamunya masuk. Begitupun ketika akan berpamitan, tidak dikenal ucapan yang standar, melainkan dengan isyarat-isyarat tertentu, misalnya dengan mengatakan, waktu telah larut, telah tiba atau akan habis waktu sholat, atau menyatakan bahwa, urusan telah rampung. Tapi semua itu berlangsung dulu. Adat dan tradisi, juga mengikuti perkembangan. Mereka akan menyapa dengan kata salam; Assalamualaikum ketika bertemu satu sama lain atau hendak bertamu. Dan akan menyatakan, saya pamit atau dalam bahasa Sasak sehari-hari; Tiang Pamit atau Tunas Pamit. Kemudian ditutup lagi dengan ucapan Assalamualaikum.

Minggu, 12 Agustus 2012

OSM, TSM dan OM

Oleh: Lalu Pangkat Ali, S.IP

            PADA tahun 2012 ini, negara kita telah menginjak usia 67 tahun, beberapa hari, sejak kelahirnya, tanggal 17 Agustus 1945 silam. Kalau pada manusia, usia 67 tahun tergolong usia yang sudah sangat matang. Oleh karena itu, kita mestinya semakin matang. Tapi tampaknya sebagian dari kita masih saja sering tampil sebagai “orang setengah matang”. Dan sebagian pula mereka yang “tua sebelum matang”.

Senin, 02 Juli 2012

Beberapa “Maliq” Dalam Adat dan Tradisi Masyarakat Sasak

Oleh : Lalu Pangkat Ali

“MALIQ” artinya tabu, terlarang,tidak layak diperbuat, karena akan membawa akibat buruk yang tidak saja datang secara nyata,tapi juga tidak nyata.

Kata maliq bermakna terlarang keras yang berbeda tingkat kedalaman pengertiannya dengan kata-kata; ndeq kanggo (tidak boleh), jra (jangan), ndeq bau (tidak dapat), tesiliq (dimarah), pelih (salah).
Contoh pemakaian dalam kalimat misalnya; “Ndeqte kanggo girang akalang batur” (tidak boleh suka menipu teman), jrate girang akalang batur” (jangan kita suka menipu teman).
Kalimat ini akan sangat berbeda artinya bila menggunakan kata “maliq”. Contoh; “O, aku kumaliqang diriq yak tipu batur” (O, aku ini sangat menjaga diriku (menyumpahi diriku) untuk sampai menipu teman. Atau kutabukan diriku untuk menipu teman.
Para pembaca dan pecinta nilai luhur budaya bangsa. Manakah contoh barang-barang yang dianggap “maliq” pada penampilan diri kita? Adapun masalah penampilan yang dilarang itu antara lain ada tiga perkara.

AKSAME DALAM TUGAS PISOLO

A :       ASSALAMUALAIKUM, WR WB....
B :       WAALAIKUM SALAM, WR WB....
A :       ALHAMDULILLAH.....DINING SAMPUN KEIMBALIN SALAM SEUGAME TITIANG SANE WAU LINTANG, PURUN MALIH DEWEK TITIANG MATUR SALAM PANEMBRAME UTAWI SALAM ADAT.
B :       SINGGIH, DANE AGUNG KANG WAU RAUH, SALAM UGAME SAMPUN TEIMBALIN, LAN MALIH SALAM PANEMBRAME SAMPUN KETAMPI, DAWEK......
A :       MATUR AGUNG TAMPI ASIH ANTUK DANE PENGARSE WACANE, MENAWI MALUNGGUH RING AREP DANE KEPALE DESA, INGKANG DADYE PENGEMONG KRAME, KALIH DANE KEPALE DUSUN INGKANG DADYE PENGEMBAN ADAT, LAN MALIH DATU PARA DATU, RADEN, MENAK, BULING, PERWANGSE, TUAN GURU, KIAYI, KHATIB, MUDIM, BILAL, MERBOT SAMI, DANE HAJI PARE HAJI, LAN SANTRI SANTRIE, NIPUN NALER GENAH, DEWEK TITIANG PRIANGGE NGELUNGSUR NUGRAHE.......
B :       KALINTANG PATUT SEKADI PENGANDIKE RAGANDE WAU RAUH, PANUGRAHE RAGANDE SAMPUN KETAMPI, NANGING WANTAH RAGANDE SANE SUMADIYE......
A :       MIWAH SANE NYARINGIN TITIANG PUNIKI RING KIWE, TENGEN, TURMALIH RING PUNGKUR, TITIANG MAMITANG NUGRAHE RING PERAGAYAN DANE-DANE SAMI…...
B :       SEMANGKANE UGI PANUGRAHE AGUNG SANE NYARENGIN RAGANDE RING KIWE, TENGEN, TURMALIH RING PUNGKUR, SAMPUN KELURGAHE, DURUSAN PENGANDIKE RAGANDE.......
A :       MATUR AGUNG SUKSME ANTUK PANJI PENAMPI AGUNG, INGGIGH YEN KELURGEHE ANTUK PANJI PENAMPI, DEWEK TITIANG MATUR MEKADI UNTENG SUMADIE......
B :       KALINTANG PATUT, DAWEK..........
A :       INGGIH, MAPAN DEWEK TITIANG PUNIKI KEPANDIKAYANG ANTUK DANE PEMBAYUN TITIANG RING JAGE, KENGIN PISOLO JAGI NUNASAN, WANTAH SAMI SAMPUN RAUH UTAWI SAMPUN NAPAK PARE SENTANE, ULEM-ULEMAN, MIWAH UNDANGAN SANE TENDAWEGAN ANTUK DANE HANDARBE KARYE. YEN NENTEN WENTEN DADOS PENGANTOS MALIH, PACANG MATUR ANTUK DANE PEMBAYUN TITIANG MANGDE GELIS RAUH NGATURANG AJI KRAME, NUNASAN.......
B :       SINGGIH, TUHU MEKADI PENGANDIKE RAGANDE WAU, DEWEK TITIANG SAMI SAMPUN NGANTOS, LAN SAMPUN NAPAK SUMADIYE NGANTOS KERAUHAN DANE AGUNG PEMBAYUN RAGANDE MANGDE GELIS LUARAN UPAKARYE PUNIKI. DAWEK RAGANDE MATUR MARING DANE PEMBAYUN RAGANDE.......
A :       INGGIH, YEN PUNIKI PENGANDIKE RAGANDE, WANTAH PUNIKI ATUR TITIANG, NGERARIS DEWEK TITIANG SRENG SAME NGELUNGSUR PENGANDIKE PAMIT. ASSALAMUALAIKUM WR, WB.......

KETERANGAN :
A :       PENYOLOH
B :       PEMBAYUN PENAMPI

Peringatan : Setiap Penyoloh dan rombongan, hendaknya berbusana rapi sesuai busana yang diharuskan dalam pelaksanaan acara adat sorong serah aji krame. Jangan memakai alas kaki atau aksesoris seperti sumpring dll. Pengiring jangan ngobrol apalagi merokok saat acara berlangsung.

Sabtu, 07 April 2012

LEGENDA DAN MITOS DALAM TRADISI MASYARAKAT SASAK

Oleh: Lalu Pangkat Ali

     Kedudukan legenda dan mitos dalam tradisi masyarakat Sasak, memang cukup diperhitungkan. Banyak terdapat legenda di kalangan ini. Tapi yang paling hidup di tengah-tengah masyarakat adalah, legenda Putri Mandalika, Cupak Gerantang, Dewi Anjani dan legenda Perjalanan Penyamaran Datu Pejanggik. 

Selasa, 10 Januari 2012

SELAMAT TINGGAL 2011

Oleh: Lalu Pangkat Ali


Tahun 2011 sudah berlalu, sudah kita lewati. Tentu saja seperti pada waktu-waktu sebelumnya, setiap momen pergantian tahun, selalu saja diisi dengan berbagai macam acara. Ada yang menggelar renungan di dalam kamar, ada yang menggelar acara hiburan. Bahkan ada yang melekan hingga menjelang pagi. Namun, terlepas dari bagaimana cara mengisi detik-detik pergantian tahun itu, sebenarnya ada hal lain yang tak kurang pentingnya untuk menjadi bahan renungan.

Minggu, 08 Januari 2012

Sasak, Lombok dan Sejarah Masa Lalu


Oleh: Lalu Pangkat Ali


SEJARAH masa lalu adalah sebuah takdir. Tidak seorang pun yang dapat menolaknya. Apakah dia berwarna hitam ataukah putih. Tidak ada yang harus disalahkan dan tidak seorangpun yang harus dihakimi, karena ia adalah bagian dari masa lalu yang telah terjadi. Membaca sejarah harus disikapi dengan arif, rasional dan rendah hati. Sejarah mengenai Lombok dan etnis Sasak adalah sejarah sebuah komunitas yang penuh air mata, karena derita yang dampaknya mungkin masih terasa sampai kini. Sejarah harus dijadikan sebagai peringatan dan pelajaran untuk tidak terulangnya lagi tragedi kemanusiaan pada siapa saja yang mendiami pulau Lombok. Apakah ia pendatang atau penduduk aslinya.

Minggu, 06 November 2011

Teladan Seorang Pedagang Bong Keliling

TELADAN SEORANG PEDAGANG BONG 
oleh: Lalu Pangkat Ali, S.IP
    Saya benar-benar terkesima membaca pernyataan sahabat sekaligus orangtua saya, Lalu Bayu Windia. Beliau dalam bukunya menulis tentang satu persoalan sosial yang patut digugu. Patut ditiru oleh semua kalangan terutama kaum birokrator. Cerita beliau yang akhirnya  menjadikan saya segera mengambil sebuah kesimpulan; masih ada ternyata seorang penjual bong yang memiliki hati yang sangat bijaksana.

Rabu, 23 Maret 2011

Pendapat Sementara Orang Tentang Lombok
 
Sementara orang, terutama dari luar Lombok berpendapat bahwa, nama Pulau Lombok berasal dari nama tanaman Lombok atau Cabe Rawit yang rasanya pedas. Barangkali pendapat ini disesuaikan dengan tulisan namanya yang sekarang, “Lombok” dan sesuai pula dengan pulaunya yang kecil mungil. Juga nama suku Sasak, ada yang berpendapat bahwa, pada jaman dahulu, orang yang pertama kali datang sebagai penghuni Pulau Lombok, datang dengan menumpang sebuah rakit yang berarti “Sasak”. Oleh sebab itulah maka, nama penduduknya dinamakan orang Sasak.

Selasa, 22 Maret 2011

UNGKAPAN AJARAN BERMAKNA DALAM SUKU SASAK



Berbagai ungkapan tradisional yang diinventarisasikan ini, mengandung unsur ajaran yang bermakna. Pada setiap ungkapan, selalu disajikan cerita rekaan untuk memperjelas maknanya. Cerita, diketengahkan secara fiktif. Tidak ada niat untuk mengisahkan kisah seseorang dalam nama tokoh. Ini terungkap secara kebetulan dan tidak disengaja. Berikut beberapa ungkapan tradisional suku Sasak.

Adeq te tao jauq aiq (Supaya kita dapat membawa air):

 

Ungkapan ini mengandung makna bahwa, dalam suatu perselisihan/pertengkaran yang memanas, kita mampu menjadi pendingin. Dalam ungkapan ini pula, diumpamakan sebagai pembawa air, karena air memiliki sifat pembunuh api. Jika suatu pertengkaran menjadi panas diumpamakan seperti api, maka airnya adalah orang yang memberi nasihat, sehingga mereka yang sedang panas hati karena bertengkar menjadi dingin.
Untuk memperjelas, disajikan cerita rekaan: Icok dan Imok sedang bertengkar ramai sekali, disaksikan beberapa teman. Pertengkaran itu muncul karena, Icok dikira telah merebut pacar Imok. Pada saat mereka bertengkar, kemudian lewatlah Inaq Minok. Setelah mengetahui duduk persoalannya, Inaq Minok kemudian menasihati kedua gadis itu. “Dik Icok dan Imok, pertengkaran ini hanya salah faham dan praduga. Untuk itu kalian supaya rukun kembali dan saling memaafkan”. Rupanya nasihat Inaq Minok dapat dipahami kedua gadis yang baru saja usai bertengkar. Keduanya langsung menjadi dingin dan akhirnya saling memaafkan.
Dalam contoh cerita di atas, Inaq Minok disebut tao jauq aiq, bisa membawa air yang mendinginkan suasana panas karena pertengkaran.

Asaq ngompal bawon aiq (Batu asah terapung di atas air) :

 

Ungkapan ini menggambarkan suatu pengharapan yang tidak mungkin terpenuhi, karena keadaannya memang tidak memungkinkan. Hal ini tampak dari penggunaan perumpamaan batu asah. Benda ini jelas tidak mungkin terapung di atas air, tapi harus tenggelam karena berat.
Ungkapan ini ingin menggambarkan suatu perbuatan yang sia-sia. Orang yang mengerjakan suatu yang tidak sesuai dengan keadaan, baik berupa materi, kecakapan, pangkat dsb. Ungkapan ini memilih perumpamaan dengan batu asah, sebab pada masyarakat pedesaan, asah merupakan peralatan kebutuhan sehari-hari mereka. Biasanya setiap rumah punya asah, dan untuk memelihara asah ini biasanya direndam dalam air. Dan pasti tenggelam, tidak ada yang mengapung.
Contoh cerita rekaan:
Amaq Iying, seorang buruh tani, tinggal disebuah desa. Penghasilannya sangat kecil. Untuk memberi makan keluarganya yang berjumlah lima orang, ia sering kekurangan, apalagi kebutuhan lainnya seperti sandang. Soleh, anak sulung Amaq Iying sudah menjadi remaja dan pergaulannya luas, terutama dengan anak-anak orang mampu. Karena pergaulan seperti itu, Soleh bergaya seperti anak orang mampu baik cara berbusana dan gaya hidupnya berpoya-poya. Orang tuanya sering dipaksa memenuhi kebutuhannya. Karena sayang anak, Amaq Iying memenuhi kebutuhan Soleh, meskipun dengan cara susah payah. Akhirnya, Soleh juga minta dibelikan sepeda motor. Mendengar permintaan yang berlebihan itu, si ayah terkejut. Mana mungkin orang tua yang miskin papa itu bisa mengabulkan permintaan Soleh. Pertengkaran pun terjadi.
Seorang tetangga yang mendengar peristiwa itu berkomentar seputar permintaan Soleh dengan ungkapan: “Asaq ngompal bawon aiq”. Sangat mustahil.

Bareng anyong jari sejukung (Bersama-sama lebur jadi seperahu) :

 

Ungkapan ini mengandung makna senasib sepenanggungan. Di sini digunakan perumpamaan seperti orang dalam satu perahu. Kalau perahu itu mengarungi lautan, maka orang-orang dalam perahu itu akan senasib sepenanggungan. Apa yang dialami selama mengarungi lautan, akan ditanggulangi bersama.
Ungkapan ini biasanya ditujukan sebagai nasihat dalam berumah tangga atau hidup bermasyarakat. Untuk memperjelas, disajikan cerita fiktifnya: Maman dan Mimi adalah sepasang suami istri. Awalnya mereka hidup rukun dan bahagia, namun belum sampai setahun berumah tangga, cobaan terus menimpa. Mimi sering sakit dan memerlukan pengobatan. Untungnya Mimi tekun mencari nafkah untuk hidup mereka. Tapi Maman belum dapat pekerjaan tetap, hidup mereka menjadi serba susah. Makan sehari pun kadang susah diperoleh. Kesulitan mereka semakin parah, karena Maman tidak mau berusaha mengatasi kesulitan rumah tangganya. Pertengkaran pun tidak bisa dielakkan.
Hal ini diketahui oleh mertua Mimi, orang tua Maman : “Sekarang kalian sudah menjadi suami istri. Artinya, kalian berdua harus membangun rumah tanggamu sendiri secara bahu membahu. Susah senang harus dirasakan dan ditanggulangi bersama. Seperti kara orang sasak, bareng anyong jari sejukung” Mendengar nasihat itu, suami istri itu akhirnya menyadari kekeliruannya dan berjanji untuk membina, mengatasi bersama segala kesulitan.

Bodo-bodo tokoq, belok nyenyedaq (Bodoh-bodoh tokoq (jenis ikan), bodoh merusak):

 

Kelihatannya bodoh, tapi kebodohannya itu merusak. Ungkapan ini mengandung makna bahwa, anak yang tampaknya bodoh dan pendiam, tapi ternyata tidak patuh pada orang tuanya.
Dalam ungkapan ini, sifat seperti itu diumpamakan sebagai ikan tokoq. Ikan tokoq adalah sejenis ikan air tawar. Ikan ini sangat jinak, bisa ditangkap dengan mudah. Tapi ikan ini bisa melukai karena senjata pada siripnya. Ia juga memiliki kulit yang licin.
Ungkapan ini biasanya ditujukan kepada anak gadis yang kelihatan pendiam, tapi ternyata tak patuh kepada orang tuanya. Bisa juga ditujukan kepada orang yang pendiam dan tampak penurut, tapi melakukan perbuatan yang menyulitkan orang tuanya.
Untuk memperjelas ungkapan ini, disajikan cerita : Haji Dullah mempunyai anak gadis bernama Fatimah dan suka pendiam dan pemalu. Karena itulah orang tuanya mencarikan jodoh untuknya. Orang tuanya menginginkan jodoh dengan seorang pemuda yang taat beribadah, berbudi pekerti baik, memiliki pekerjaan tetap dan bertanggung jawab. Alhasil Fatimah dikawinkan dengan seorang misan dan tak ada kesulitan keluarga kedua belah pihak untuk mengawinkan kedua remaja itu. Namun tak disangka, Fatimah merariq (kawin lari) dengan seorang pemuda lain pilihannya sendiri. Orang tuanya sangat kaget setelah mengetahui Fatimah merariq dengan seorang pemuda pengangguran dan akhlaknya tidak baik.
Orang sekampung yang mengetahui kejadian itu mengatakan, sifat Fatimah yang pendiam dan pemalu berkomentar : “Iya aran kanak bodo tokoq, belok nyenyedaq” artinya, itu namanya anak bodoh bodoh tokoq, tapi merusak. Ungkapan ini mengandung ajaran, seorang anak pada dasarnya harus patuh kepada orang tua.


Ndaq ampahang simbur paleng (Jangan remehkan lele pingsan) :


Ungkapan ini mengandung makna, jangan meremehkan hal-hal yang nampaknya sepele, tapi harus selalu waspada. Dalam ungkapan ini diumpamakan sebagai lele pingsan. Lele adalah jenis ikan yang memiliki pantek/saeng. Lele yang pingsan, jangan dianggap tidak berbahaya, sebab sewaktu-waktu bisa sadar lalu menyengat/memantek. Ungkapan ini sebagai nasihat, agar kita selalu waspada. Untuk jelasnya, disajikan cerita rekaan :
Pak Jemang memiliki sawah yang cukup luas. Untuk mengerjakannya memerlukan pembantu. Ia lalu mengajak Sidik, seorang pemuda pengangguran dan sering keluar masuk penjara karena kasus mencuri. Maksud Pak Jemang, agar Sidik punya pekerjaan dan kesibukan. Dengan pekerjaan dan penghasilannya itu, Sisik bisa bertaubat dan menjadi orang baik-baik.
Saat itu pula seorang tetangga yang kebetulan lebih tua dan berpengalaman menasihati Pak Jemang: “Endaq ampahang simbur paleng” Mendengar nasihat tersebut, tahulah pak Jemang bahwa ia harus waspada. Walaupun nampaknya Sidik orang baik-baik, tetapi tetap harus waspada.
Ungkapan ini mengandung ajaran, agar kita selalu waspada, lebih-lebih kepada orang-orang yang sudah kita kenal tabiatnya kurang baik.

Ulah mandi isiq bisana (Ular bertuah oleh bisanya (racunnya):

 

“Ular bertuah oleh bisanya”, ungkapan ini mengandung arti bahwa, seseorsng itu berharga atau berguna karena ilmunya. Dalam ungkapan ini diumpamakan sebagai ular dengan bisanya. Makin keras bisa ular, makin ditakuti. Maksudnya makin berilmu seseorang, makin dihargai dan disegani.
Ungkapan ini biasanya digunakan untuk melukiskan seseorang yang disegani dan dihargai karena kepandaiannya, untuk dapat dijadikan contoh dan anak-anak muda yang sedang dalam usia menuntut ilmu.
Untuk jelasnya, disajikan cerita : Ali, seorang pemuda. Di desa tempat tinggalnya, ia banyak membantu kepala desa dalam usaha membangun desanya. Kepada orang-orang tua, Ali selalu menaruh hormat. Banyak warga desa yang senang dan berkunjung ke rumahnya untuk menyatakan berbagai hal. Dalam setiap kesempatan musyawarah desa, Ali selalu diundang untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat. Ini disebabkan karena Ali pemuda yang berpendidikan dan banyak pengetahuan, sehingga mampu memberikan sumbangan pikiran kepada masyarakat. Karenanya orang-orang tua pun menghargai dan menaruh hormat kepadanya. Kemampuan Ali yang demikian itu digambarkan sebagai Ulah mandi isiq bisana.
Menurut ilmu, untuk meningkatkan martabat manusia adalah salah satu nilai kemanusiaan yang perlu dijunjung tinggi.
Demikian beberapa ungkapan tradisional suku Sasak. Masih banyak lagi ungkapan lain yang belum tersaji. Pada kesempatan lain akan dibahas lagi. Semoga!

ANDANG-ANDANG DALAM PIRANTI SUKU SASAK

Andang-andang dalam istilah suku Sasak adalah, semacam simbol untuk memulai sebuah pekerjaan. Andang-andang terdiri dari lekes (daun sirih dan buah pinang) sebanyak sembilan buah, tembakau dan sembilan batang rokok, kepeng bolong 225 kepeng, beras, sebutir telur ayam kampung dan benang segelinting (segulung benang) yang ditempatkan dalam media penginang kuning (semacam baskom kecil terbuat dari kuningan).

Senin, 21 Maret 2011


Peranan Lembaga Majelis Adat Sasak di Lombok

SETELAH diteliti dan dicermati, peranan Lembaga Majelis Adat Sasak di Lombok makin berkembang. Berbagai macam ungkapan akan pentingnya meneliti kembali kebudayaan, merupakan salah satu penunjang kebudayaan secara nasional, termasuk juga kebudayaan suku Sasak di Lombok.
Sejak sekian lama lembaga Majelis Adat Sasak didirikan, tidak sedikit terdapat hal-hal yang perlu mendapat pembenahan untuk menertibkan hidup dan kehidupan berbudaya, termasuk adat dan kebiasaan sehari-hari, sudah jauh dipengaruhi oleh kebiasaan yang datang dari luar.
Dari berbagai macam upacara adat yang berlaku dan dilaksanakan di Pulau Lombok, maka adat perkawinanlah yang masih sangat dominant dilaksanakan oleh masyarakat Sasak, yaitu mulai dari merari’ sampai kepada penyelesaian selanjutnya, banyak sekali menimbulkan persoalan yang terkadang terjadi pertentangan dalam masyarakat.
Untuk itu dirasa perlu memberikan pengungkapan melalui referensi ini, dan tidak berarti untuk menggali hal-hal yang berlaku di zaman lampau, terutama zaman masyarakat feodal. Tapi yang berlaku sehari-hari sebagaimana patokan akan timbulnya bermacam-macam upacara dalam perkawinan dengan segala pengertiannya.
Terutama mengenai hukumnya, sehingga setiap perkawinan dengan segala macam upacaranya, dipatuhi oleh masyarakat. Sebagai dasar hukumnya, setiap perkawinan akan sah, jika telah melalui tiga macam hukum yaitu : Hukum Negara, Hukum Agama dan Hukum Adat.
Kendati ketiga hokum itu terpisah-pisah, yaitu hukum negara ditimbulkan dengan undang-undang negara, hokum agama memiliki aturannya sendiri dan hukum adat juga mempunyai aturan pelaksanaannya sendiri. Namun dalam pelaksanaannya tidak dapat dipisahkan, dengan kata lain, jika hukum Negara saja yang dilaksanakan, maka perkawinan itu tidak sah menurut hukum agama dan sebaliknya, jika hanya hukum agama saja yang dilaksanakan, maka perkawinan itu tidak sah menurut hukum Negara. Semenyata masing-masing hukum tersebut memiliki sangsi sendiri-sendiri.
Mengenai hokum perkawinan Negara termaktub dalam undang-undang perkawinan No. 1 tahun 1974 yang sekaligus termasuk dalam hokum agama, juga sudah memiliki ketegasan dalam pelaksanaan dan sangsinya. Dalam hal ini, yang penting diungkapkan adalah permasalahan adat dalam perkawinan suku Sasak dengan segala macam upacaranya.

Masalah Merari’
Soal merari’ dalam pengertiannya yaitu, seorang lelaki mengambil kawin seorang perempuan yang akan menjadi istrinya. Dalam pelaksanaan upacara adatnya ada beberapa tahap yaitu :
- Merari’
- Melaksananan Sejati/selabar
- Mengambil Wali
- Membait Janji
- Sorong Serah
- Nyongkol
- Balik Lampak
Mengenai merari’ mungkin tak pelu dikupas, karena masyarakat adat sudah mengetahuinya, yaitu seorang perempuan diambil kawin oleh seorang lelaki secara melarikan diri berdua. Selain cara itu, ada lagi cara yang berkembang belakangan ini ialah, secara belakoq (meminang) yang tentunya kedua cara ini dalam pelaksanaannya masing-masing berbeda. Cara yang pertama melakukan sejati/selabar dan cara kedua yaitu belakoq, langsung mengadakan perundingan bagi kedua belah pihak.
Pengertian sejati/selabar ialah, (mesejati), sebagai laporan kepada perangkat desa (kades atau kadus) bahwa di desanya telah ada orang yang melakukan merari’ untuk kemudian akan menjadi suami-istri. Sedangkan selabar, menyebarkan kepada masyarakat tentang telah merari’-nya seorang lelaki dengan seorang perempuan. Tahap selanjutnya, meminta wali kepada orang tua pihak perempuan untuk disahkan menjadi suami-istri secara Agama Islam. Meskipun soal ini tidak terpisahkan dalam tahapan pelaksanaan adat, namun pelaksanaannya murni berdasarkan Agama Islam dalam perkawinan adat Sasak.

Membait Janji
Membait Janji ini sebenarnya merupakan perundingan antara pihak keluarga pengantin lelaki dengan pihak keluarga pengantin perempuan untuk menentukan, kapan penyelesaian adat akan dilaksanakan, termasuk jumlah biaya yang diperlukan. Karena dalam peralatan itu, kedua belah pihak akan mengundang sanak keluarganya untuk menyaksikan penyelesaian adat.
Dalam perundingan ini, banyak sekali pertentangan yang terjadi, sehingga kadang-kadang terjadi perselisihan yang seru dan menyebabkan gagalnya perundingan, karena masing-masing pihak tak mau mengalah. Hal ini terjadi karena; Pihak perempuan terlalu tinggi permintaan yang diajukan kepada pihak keluarga lelaki sebagai sumbangan, Persyaratan yang tak mungkin dipenuhi oleh pihak lelaki.
Terjadinya pertentangan ini mungkin saja disebabkan, karena pihak keluarga perempuan menganggap pihak keluarga lelaki masih sebagai musuh di dalam adat, ditambah lagi, pihak keluarga perempuan terkadang lupa bahwa, perkawinan itu merupakan hal yang suci dan sakral. Dan merupakan kepentingan sosial, lalu digeser kepada kepentingan ekonomi.

Masalah gantiran
Yang kurang disadari oleh kedua belah pihak adalah, anggapan sebagai “musuh dalam adat”. Meskipun berlaku dalam hakekat yang sebenarnya setelah akad nikah diikrarkan, maka kedua belah pihak sudah terikat sebagai keluarga. Bukan saja pihak mempelai, namun kedua keluarga sudah bersambung menjadi keluarga besar.
Berunding di dalam keluarga yang tidak menganggap masing-masing pihak sebagai musuh, sekaligus kedua belah pihak sebagai partner yang memiliki tanggung jawab yang sama. Zaman lampau, soal besarnya gantiran atau pisuke, mempunyai patokan tertentu, yaitu :
- Satu ekor kerbau/sapi dewasa dan biasanya yang jantan (jagiran)
- 100 catu beras (1 catu = 2,5 – 3 kg )
- Kayu api secukupnya
- Bumbu-bumbu/ragi secukupnya
Namun sekarang, untuk praktisnya diperhitungkan dengan nilai uang yang kadang-kadang jumlahnya sangat besar, seolah-olah memaksakan bagi pihak lelaki untuk memenuhi nilai tersebut.

Masalah Denda
Masalah denda yang diterapkan dalam hukum adat Sasak, terutama yang berlaku dalam adat perkawinan dengan pengertian bahwa, setiap pelanggaran yang dilakukan dalam adat, sudah tentu memiliki sangsi dan penerapan hukumnya. Zaman dulu, banyak sekali hukuman yang diterapkan yang kadang-kadang terlalu keras, namun belakangan, sudah disesuaikan dengan keadaan. Misalnya pelanggaran yang dihukum dengan hukuman mati, sekarang cukup dengan hukuman denda pati dalam sorong serah.
Ada beberapa pelanggaran dalam adat perkawinan yang biasa berlaku adalah :
- Malagandang, berupa paksaan terhadap seorang perempuan yang tidak mau dilarikan oleh seorang lelaki.
- Merari’ Kenjelo, yaitu merari’ pada siang hari, karena merari’ itu, lazimnya pada malam hari.
Ada juga pelanggaran yang dianggap lebih enteng, misalnya :
- Babas Kuta yaitu, melewati batas desa bagi orang merari’ berlainan desanya.
- Nglengkak, yaitu seorang perempuan yang lebih muda meninggalkan kakaknya lebih dulu merari’
- Nyalin Panji, yaitu berganti-ganti utusan untuk melakukan perundingan.
Selain pelanggaran di atas, masing-masing desa memiliki istilah-istilah sendiri dalam memberikan pelanggaran. Pelanggaran yang terjadi, sangsinya merupakan semacam pembayaran denda yang dikeluarkan pada saat upacara sorong serah, yang setelah semuanya terlaksana, lalu ditutup dengan kalimat “tan onang kebaos malik” yang artinya, apa yang sudah diputuskan, tidak boleh diganggu gugat lagi.
Akhirnya kita masyarakat adat berharap kepada pemangku dan pengempu masyarakat Sasak untuk memaklumi bahwa, adat Sasak merupakan suatu pengarahan untuk memelihara ketertiban dalam masyarakat Sasak. Kedua, adat Sasak tidak terlalu ketat untuk tidak dilaksanakan, karena segala persoalan akan dapat diatasi dengan musyawarah. Ketiga, merupakan tugas dan peranan Mahelis Adat Sasak untuk mempersempit dan memperkecil akibat dari pertentangan dalam masyarakat, terutama mengenai pertentangan dalam adat perkawinan yang masih banyak dipengaruhi dan dicampur aduk dengan adat dari luar. Semoga sumbangan tulisan ini bermanfaat…